USULAN
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
P2B3Al (Pembuatan
Plastik Biodegradable Berbasis Biji
Alpukat)
BIDANG KEGIATAN :
PKM – GAGASAN ILMIAH
Diusulkan oleh:
Tri Fitriany (H1A011011) Angkatan 2011
Irvan
Maulana F. (H1A011024) Angkatan 2011
Agus
Soleh (H1A012028) Angkatan 2012
Siti
Nurhabibah (H1A013026) Angkatan 2013
Khilman
Husna P. (G1F011036) Angkatan 2011
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014
P2B3Al
(Pembuatan Plastik Biodegradable
Berbasis Biji Alpukat)
Tri Fitriany, Irvan Maulana Firdaus,
Agus Soleh, Siti Nurhabibah, Khilman Husna Pratama
Fakultas Sains dan Teknik Universitas
Jenderal Soedirman
RINGKASAN
Plastik adalah salah satu bahan pengemas yang umum dan sering digunakan oleh masyarakat
Indonesia karena memiliki banyak kegunaan. Namun,
disisi lain plastik menimbulkan masalah lingkungan yang sangat serius yakni
limbah Plastik. Oleh karena itu, diperlukan penanganan
yang khusus untuk mengurangi dampaknya
terhadap lingkungan yaitu dengan menggunakan Plastik Ramah Lingkungan atau biodegradable.
Karya tulis ini bertujuan untuk memberikan
gambaran produksi plastik biodegradable,
menerapkan
serta memanfaatkan plastik dari biji alpukat dalam kehidupan sehari – hari. Plastik biodegradable dapat terurai
dengan bantuan mikroorganisme baik secara anaerob maupun aerob karena terbuat
dari PLA atau Poly
Latic Acid. Gagasan tentang “Pembuatan
Plastik Biodegradible Berbasis Biji Alpukat” adalah salah satu solusi yang
dapat menjanjikan.
Penyusunan karya tulis ini menggunakan metode pengumpulan data, proses penyeleksian, ringkasan dan uraian
singkat, kemudian data yang sudah didapatkan diolah dan disusun secara sistematis, serta penarikan
kesimpulan. “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat” merupakan solusi
alternatif yang digunakan untuk menanggulangi permasalahan lingkungan. Langkah
– langkah yang dilakukan sebagai berikut : (1) Melakukan “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis
Biji Alpukat”; (2) Pengenalan “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis
Biji Alpukat”; (3) Publikasi “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis
Biji Alpukat”; (4) Publikasi melalui media elektronik dan media cetak; (5)
Kerjasama dengan pemerintah. Dengan adanya pembuatan plastik biodegradable, penanggulangan permasalahan
lingkungan di Indonesia akan tercapai dan kesejahteraan bangsa Indonesia
menjadi kenyataan.
PENDAHULUAN
Latar
belakang
Masyarakat
Indonesia disibukkan dengan
semaraknya isu mengenai pemanasan global (global warming) dan
lingkungan. Kondisi
lingkungan yang memburuk
akan mempengaruhi pemanasan
global dan ekosistem yang terdapat didalamnya. Salah satu permasalahan di dunia
ataupun di Indonesia khususnya, adalah limbah plastik. Saat ini, banyak jenis
bahan yang digunakan untuk mengemas makanan diantaranya adalah berbagai jenis
plastik, kertas, fibreboard, gelas, tinplate, dan aluminium (Syamsir, 2008). Plastik adalah salah satu bahan pengemas yang umum dan
sering digunakan oleh masyarakat Indonesia karena memiliki banyak keunggulan
antara lain: bersifat aman, kuat (tahan air, cahaya, dan panas), dan murah harganya (Utomo, 2013). Menurut Musthofa (2011), setiap tahun
sekitar 100 juta ton plastik kemasan sintetik diproduksi dunia untuk digunakan
di sektor industri dan kira-kira sebesar itulah sampah plastik yang dihasilkan
setiap tahun. Sementara kebutuhan plastik dalam negeri mencapai 2,3 juta ton.
Dampak plastik menimbulkan
masalah lingkungan yang sangat serius yakni limbah plastik. Material plastik umumnya terbuat dari golongan
petrokimia yang merupakan bahan dasar polimer sintesis. Polimer sisntesis
umumnya tidak dapat diuraikan secara biologis (Theresia, 2003). Hal ini
mengakibatkan terjadinya penumpukan limbah dan menjadi penyebab pencemaran dan
kerusakan lingkungan hidup (Cereda, 2007). Plastik juga berbahaya bagi
kesehatan manusia karena adanya migrasi residu monomer vinil klorida sebagai
unit penyusun polivinilklorida (PVC) yang bersifat karsinogenik (Siswono,
2008). Monomer – monomer tersebut akan masuk ke dalam makanan dan selanjutnya akan masuk ke dalam
tubuh orang yang mengkonsumsinya. Penumpukan bahan kimia yang telah masuk ke
dalam tubuh tidak dapat larut dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar
bersama urin maupun feses. Penumpukan bahan-bahan inilah yang bisa menimbulkan
gangguan kesehatan bagi pemakainya dan bisa mengakibatkan kanker (Siswono,
2008).
Oleh karena itu, limbah plastik
diperlukan penanganan yang khusus untuk
mengurangi dampaknya yaitu dengan menggunakan Plastik Ramah Lingkungan atau biodegradable.
Plastik Ramah Lingkungan dapat terurai
dengan bantuan mikroorganisme baik secara anaerob maupun aerob melalui
pembuatan polimer PLA atau Poly Latic
Acid hasil proses esterifikasi asam laktat yang diperoleh dengan cara
fermentasi oleh bakteri dengan menggunakan substrat pati atau gula sederhana (Bastioli, 2002). PLA memiliki sifat
tahan panas, kuat dan merupakan polimer yang elastis (Auras, 2002) dan dapat
terurai di tanah, baik dalam kondisi aerob ataupun anaerob dalam kurun waktu
enam bulan sampai lima tahun (Auras, 2002).
Indonesia memiliki potensi kekayaan alam
yang cukup melimpah. Salah satunya adalah buah alpukat. Umumnya jika
mengkonsumsi buah alpukat, bagian bijinya dianggap tidak bermanfaat sehingga
dibuang begitu saja. Padahal, bagian biji alpukat tersebut jika mendapatkan
penanganan lebih lanjut dapat menjadi pati yang tidak kalah nilainya dibanding
pati lainnya (Chandra, 2013).
Biji alpukat merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan bagi tanaman
alpukat, selain buah, batang dan akar. Karbohidrat merupakan penyusun utama
cadangan makanan alpukat. Kandungan karbohidrat ini dapat diolah menjadi bahan
yang lebih bermanfaat melalui proses pembuatan pati yang selanjutnya dapat
diproses dalam pembuatan polimer PLA sebagai bahan dasar Plastik Ramah Lingkungan.
Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan
program ini adalah :
1. Memberikan gambaran produksi plastik biodegradable.
2. Menerapkan
serta memanfaatkan plastik dari biji alpukat dalam kehidupan sehari – hari.
Manfaat
Program ini
diharapkan akan memberikan kegunaan sebagai berikut :
1. Membentuk lingkungan yang produktif dengan pengolahan
biji alpukat yang kurang dimanfaatkan menjadi Plastik Ramah Lingkungan.
2. Menambah pengetahuan masyarakat bahwa limbah biji
alpukat bisa dimanfaatkan kembali bagi pembuatan plastik biodegradable.
3.
Serta mendorong
pemerintah untuk mengadakan penelitian lebih lanjut terhadap sumber daya alam
yang ada dan melimpah di Indonesia untuk pengembangan plastik biodegradable.
GAGASAN
Kondisi kekinian pencetus
gagasan
Permasalahan mengenai lingkungan
di dunia ataupun di Indonesia khususnya, adalah mengenai limbah plastik. Tahun
1993 sampai 2003
industri berbahan baku plastik di Indonesia tumbuh rata – rata 10 % tahunnya.
Kapasitas produksi termoplastik di Indonesia sampai dengan tahun 2003 mencapai
1.897.823 ton. Proyeksi produksi plastik PVC resin
sampai tahun 2008 di Indonesia diperkirakan dapat mencapai 592 ribu ton. Makin
banyak penggunaan produk plastik di masyarakat, semakin banyak pula industri
dan bahan baku untuk pembuatannya (Hira, 2006). Plastik
banyak digunakan untuk berbagai hal, diantaranya sebagai pembungkus makanan,
alas makan dan minum, untuk keperluan sekolah, kantor, automotif dan berbagai
sektor
lainnya. Karena
memiliki banyak keunggulan antara lain: fleksibel, ekonomis, transparan, kuat,
tidak mudah pecah, bentuk laminasi yang dapat dikombinasikan dengan bahan
kemasan lain dan sebagian ada yang tahan panas dan stabil (Nurminah, 2002).
Disamping memiliki berbagai
kelebihan plastik juga mempunyai kelemahan diantaranya adalah bahan baku utama
pembuat plastik yang berasal dari minyak bumi yang keberadaannya semakin
menipis dan tidak dapat diperbaharui. Plastik tidak dapat dihancurkan dengan cepat dan alami
oleh mikroba penghancur di dalam tanah. Hal ini mengakibatkan terjadinya
penumpukan limbah dan menjadi penyebab pencemaran serta kerusakan lingkungan hidup (Cereda, 2007).
Teknologi kemasan plastik biodegradable adalah salah satu upaya yang
dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan penggunaan kemasan plastik yang non degradable. Indonesia sebagai negara
yang kaya sumber daya alam (hasil pertanian) berpotensi menghasilkan berbagai
bahan biopolimer, sehingga teknologi kemasan plastik biodegradable mempunyai prospek yang baik (Yuli,
2008).
Solusi yang pernah ditawarkan sebelumnya untuk memperbaiki pencetus
gagasan
Plastik sintetik mempunyai kestabilan fisiko
– kimia yang sangat kuat sehingga plastik sukar terurai
secara alami dan tidak bisa diurai secara biologi sehingga akan mencemari linkungan.
Pada prinsipnya telah diupayakan pengolahan sampah plastik dengan cara daur
ulang, pembakaran dan penimbunan. Namun masih belum dapat sepenuhnya mengatasi
masalah lingkungan akibat sampah plastik.
Seberapa jauh
kondisi kekinian pencetus gagasan dapat diperbaiki melalui gagasan yang
diajukan
Masalah yang timbulkan karena
plastik sintetik, harus ada penanganan yang efektif dan merupakan solusi
dari masalah tersebut, yaitu “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji
Alpukat”. Plastik biodegradable
tidak berbahaya bagi lingkungan karena dibuat dari bahan – bahan alami sehingga
ketika menjadi limbah mudah didegradasi oleh mikroba dalam tanah. “Pembuatan Plastik
biodegradable Berbasis Biji Alpukat”
merupakan sebuah gagasan yang dapat memecahkan masalah tentang pastik karena
plastik biodegradable adalah Plastik Ramah Lingkungan.
Pembuatan bioplastik bisa
dilakukan dari biji alpukat. Pertimbangan
menggunakan biji alpukat dikarenakan biji alpukat mengandung zat pati yang cukup tinggi, yakni sebesar 23
% (Lubis, 2008). Biji alpukat
memiliki kandungan pati dan serat pangan lainnya yang dapat di hidrolisis baik
dengan asam, enzim maupun fermentasi menjadi glukosa. Kemudian dilakukan proses
lanjutan untuk menghasilkan plastik biodegradable. Pati terdiri dari dua polimer yang berlainan, senyawa
rantai lurus, amilosa, dan komponen yang bercabang, amilopektin (deMan, 1997).
Sampai saat ini biji alpukat hanya dibuang sebagai limbah. Padahal biji alpukat
memiliki banyak kandungan yang dapat dimanfaatkan.
Komposisi kimia dan sifat – sifat
dari pati biji alpukat dapat dilihat pada table 1 berikut :
Tabel 1. Komposisi kimia dan sifat – sifat dari pati biji alpukat
|
Komponen
|
Jumlah (%)
|
Komponen
|
Jumlah (%)
|
|
Kadar air
|
10,2
|
Lemak
|
tn
|
|
Kadar pati
|
80,1
|
Serat kasar
|
1,21
|
|
* Amilosa
|
43,3
|
Warna
|
Putih
cokelat
|
|
*Amilopektin
|
37,7
|
Kehalusan
granula
|
Halus
|
|
Protein
|
tn
|
Rendemen pati
|
21,3
|
Sumber: Winarti dan Purnomo, (2006).
*Amilosa + amilopektin = pati; tn= tidak dianalisa
Pengembangan kemasan ramah lingkungan merupakan solusi
alternatif
dalam menanggulangi permasalahan kemasan plastik nonbiogradable. Oleh karena itu pengembangan plastik biodegradable di Indonesia memiliki
potensi yang sangat besar. Dalam proses pembuatan “Plastik Biodegradable
Berbasis Biji Alpukat” terdapat lima langkah rangkaian proses utama,
diantaranya ekstraksi pati dengan metode Jufri (2006), hidrolisis
pati menjadi glukosa, fermentasi asam laktat, esterifikasi
dan pembentukan polimer dengan metode Listianingrum (2011).
Pihak-pihak yang dipertimbangkan membantu mengimplementasikan
gagasan dan uraian peran atau kontribusi masing-masingnya
Adapun pihak yang dapat
membantu untuk mengimplementasikan gagasan tentang “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat”,
yaitu :
1. 1. Laboratorium Kimia
Laboratorium
kimia berfungsi untuk memfasilitasi masyarakat untuk membuat dan mengembangkan plastik
biodegradable.
2. 2. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)
LPPM merupakan lembaga yang berfungsi untuk merancang
dan membangun model kerjasama dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat baik dengan instansi pemerintah, swasta, perorangan maupun lembaga
kemasyarakatan lainnya.
3. 3. Industri Plastik
Industri plastik
merupakan produsen plastik yang dapat membuat plastik biodegradable dengan skala besar serta dapat memasarkan produksi ke
masyarakat.
4. Lembaga Sosial Lingkungan Hidup
Lembaga social lingkungan
hidup sangat penting kedudukannya sebgai lembaga yang
memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi dan edukasi kepada
masyarakat adalah komponen penting agar masyarakat beralih menggunakan plastik biodegradable.
Langkah – langkah strategis yang harus dilakukan untuk
mengimplementasikan gagasan sehingga tujuan atau perbaikan yang diharapkan
dapat tercapai
Untuk mengoptimalkan dan
mengimplementasikan gagasan ini perlu adanya langkah – langkah strategis yang
harus dilakukan agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Langkah – langkah
strategis untuk mengoptimalkan “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat” dapat dilihat pada tabel 2 berikut :
Tabel 2. Langkah – langkah strategis “Pembuatan
Plastik Biodegradable Berbasis Biji
Alpukat”
|
Tahapan
|
Kegiatan
|
|
Melakukan “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat”.
|
Membuat Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat melalui kerja sama dengan pihak
Labolatorium Kimia.
|
|
Pengenalan “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat”.
|
Mengenalkan produk dan “Pembuatan
Plastik Biodegradable Berbasis Biji
Alpukat” kepada LPPM, BPPT, dan Lembaga Penelitian lainnya.
|
|
Publikasi “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat”.
|
Mengenalkan kepada Industri Plastik
melalui proposal, seminar, ataupun LPPM dalam rangka “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat”.
|
|
Publikasi melalui media elektronik dan
media cetak.
|
Mengenalkan kepada masyarakat tentang Plastik Ramah Lingkungan melalui
Televisi, Radio, Famplet, Baliho dan selebaran.
|
|
Kerjasama dengan pemerintah
|
Melakukan kerjasama dengan pemerintah
untuk mensosialisasikan “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat” kepada pihak industri plastik
asing maupun dalam negeri dalam rangka pembuatan Plastik Ramah Lingkungan.
|
KESIMPULAN
Gagasan yang diajukan
Plastik dapat menimbulkan masalah lingkungan
yang sangat serius yakni limbah sampah dan
umumnya terbuat dari golongan petrokimia sebagai bahan dasar. Plastik yang terbuat dari polimer
sintesis tidak dapat diuraikan melalui proses biologis secara singkat. Upaya
yang dicanangkan penulis adalah “Pembuatan Plastik Biodegradable
Berbasis Biji Alpukat”. Pembuatan
plastik biodegradable dapat dikembangkan
di Indonesia. Biji alpukat sebagai bahan baku plastik biodegradable memiliki potensi yang sangat besar. Biji alpukat banyak
ditemukan sebagai limbah, sehingga pemanfaatan limbah biji alpukat merupakn
sebuah gagasan yang baik. Dimana melalui pembuatan plastik biodegradable dapat menanggulangi masalah lingkungan di Indonesia.
“Pembuatan Plastik Biodegradable
Berbasis Biji Alpukat” dilakukan dengan bekerjasama dengan pihak – pihak yang
terkait seperti : Labolatorium Kimia, LPPM, Industri Plastik, dan Lembaga
Sosial Badan Lingkungan Hidup.
Teknik
implementasi
yang dilakukan
Teknik
implementasi “Pembuatan Plastik Biodegradable
Berbasis
Biji Alpukat” yaitu : (1) Melakukan
“Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis
Biji Alpukat”; (2) Pengenalan “Pembuatan Plastik Biodegradable Berbasis Biji Alpukat”; (3) Publikasi “Pembuatan
Plastik Biodegradable Berbasis Biji
Alpukat”; (4) Publikasi melalui media elektronik dan media cetak; (5) Kerjasama
dengan pemerintah.
Prediksi hasil yang akan
diperoleh (manfaat dan dampak gagasan)
Setelah upaya “Pembuatan
Plastik Biodegradable dari Biji
Alpukat” melalui beberapa langkah yang telah disebutkan, ada beberapa prediksi
hasil yang akan diperoleh dari gagasan tersebut yaitu : (1). Apabila plastik biodegradable digunakan sebagai kemasan,
maka akan sangat membantu permasalahan lingkungan, baik di Indonesia maupun di
dunia, (2). Sektor IPTEK di Indonesia akan terdorong maju karena akan dilakukan
banyak riset – riset pengembangan plastik biodegradable,
(3). Pemanfaatan bahan baku lokal juga akan meningkatkan rasa cinta tanah air
dan kebanggaan tersendiri masyarakat Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
Auras R, Bruce H, Susan S. 2002. Poly Lactic Acid
Films as Food Packaging
Materials. USA : Environmental Conference.
Bastioli
C. 2002. Global Status of the Production of Biobased Packaging Materials.
Italy : Novara.
Candra
A, Hie MI, Verawati. 2013. Pengaruh pH
dan Jenis Pelarut pada Perolehan dan Karakterisasi Pati dari Biji Alpukat.
Bandung : LPPM Unpar.
Careda
MP, et.al. 2007. Characterization of
Edible Films of Cassava Strach by Electron Microscopy. Journal Food Technology : 91-95.
deMan JM. 1997. Kimia Makanan. Bandung : ITB-Press.
Hira N. 2006. Industri Plastik Indonesia. Jakarta :
Bank Ekspor Indonesia.
Jufri M, Rosmala
D, Ahmad R. 2006. Studi Kemampuan Pati Biji Durian sebagai Bahan Pengikat Dalam
Tablet Ketoprofen secara Granulasi Basah. Majalah
Ilmu Kefarmasian 3 (2) : 78 – 86.
Listianingrum, Neni D, Abdul HM. 2011. Kajian Pemanfaatan Kulit Singkong (Manihot
utilisima) dalam Sintesa Plastik Biodegradable Poly Lactic Acid (PLA) dengan Variasi Plasticizer. Purwokerto :
Penelitian Sains dan Teknik Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Lubis, Linda M. 2008. Ekstraksi Pati dari Biji Alpukat. Medan
: Fakultas Pertanian USU.
Musthofa
MH. 2011. Uji Coba Bahan Kantong Bioplastik Pati dan Onggok Tapioka dengan
Gliserol sebagai Plastizer. Skripsi. Malang : Universitas Brawijaya.
Nurminah,
M. 2002. Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan
Plastik dan Kertas serta Pengaruhnya terhadap Bahan yang Dikemas. Skripsi.
Medan : Pertanian USU.
Siswono.
2008. Jaringan Informasi pangan dan Gizi.
Jakarta : Ditjen Bina Gizi Masyarakat.
Syamsir
E. 2008. Plastik dari Senyawa Limonen. http://www.chem-is-try.org/artikel.
diakses pada tanggal 28 Februari 2014.
Theresia
V. 2003. Aplikasi dan Karakterisasi Sifat Fisik-Mekanik Plastik Biodegradable dari
Campuran LLDPE dan Tapioka. Skripsi. Bogor : IPB.
Utomo
AW, Bambang DA, Mochamad BH. 2013. Pengaruh
Suhu dan Lama Pengeringan terhadap Karakteristik Fisikokimiawi Plastik Biodegradable dari Komposit Pati Lidah Buaya (Aloe
Vera)-Kitosan. Jurnal Bioproses Komoditas Tropis 1 (1).
Winarti
S, Purnomo Y. 2006. Olahan Biji Buah.
Surabaya : Trubus Agrisarana.
Yuli
D, Chici A, Sri ID. 2008. Sintesa Bioplastik
dari Pati Pisang dan Gelatin dengan Plasticizer Gliserol. Lampung : Seminar
Nasional Sains dan Teknologi-II Universitas Lampung.

Posting Komentar